Profil Bhayangkara FC: Mencari Kemapanan 2017

Kemunculaan Bhayangkara FC berawal dari dualisme Persebaya Surabaya yang terjadi pada 2010. Kala itu, ada dua tim yang menggunakan nama Persebaya Surabaya. Satu berlaga di Indonesian Premier League (IPL) dengan nama Persebaya 1927, dan yang satunya lagi tampil di Divisi Utama dengan nama Persebaya Surabaya.

Setelah dua musim bermain di Divisi Utama, Persebaya Surabaya akhirnya promosi ke Indonesian Super League (ISL) di musim ketiganya usai menjuarai kompetisi kasta kedua tersebut, tepatnya pada 2013 lalu.

Hanya semusim bermain di kompetisi kasta teratas (musim 2013-2014), upaya Persebaya untuk tetap eksis di kompetisi kasta tertinggi mulai mendapat hambatan. Tanda-tanda itu muncul diawali dari keikutsertaan mereka di Piala Presiden 2015.

Pada waktu itu, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) mengancam Persebaya di bawah PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) tidak bisa ambil bagian di turnamen garapan Mahaka Sports and Entertainment itu jika tidak mengubah nama.

Demi mendapatkan izin tampil di turnamen tersebut, PT MMIB di bawah kendali I Gede Widiade selaku pengelola klub melunak. Nama United pun ditambahkan di belakang nama Persebaya, jadi Persebaya United.

Setelah itu, mereka kembali berganti nama menjadi Bonek FC, kemudian menjadi Surabaya United, berubah lagi menjadi Surabaya United Bhayangkara. Pergantian nama sebanyak empat kali itu terjadi hanya dalam kurun waktu setahun, sepanjang musim 2015.

Memasuki musim 2016, tim yang saham mayoritasnya dimiliki Polri ini kembali mengubah namanya, kali ini menjadi Bhayangkara FC. Dengan menggunakan nama tersebut, Bhayangkara FC pun tampil di Torabika Soccer Championship 2016 presented by IM3 Ooredoo. Nama inilah yang kemudian dipatenkan menjadi nama tim yang baru saja berpindah markas dari Surabaya ke Jakarta tersebut.

Di kompetisi baru, Liga 1, Bhayangkara FC pun berambisi memperbaiki catatan prestasinya di TSC 2016. Mereka memancang target minimal bertengger di posisi lima besar. Namun peruntungan Bhayangkara tampaknya berkata lain, mereka hanya finish di urutan ke-7 klasemen akhir.

Perubahan besar dilakukan manajemen Bhayangkara FC pada pramusim 2017. Selain mempertahankan sederet wajah lama, mereka juga memulangkan sejumlah pemain berstatus anggota Polri. Tak hanya itu, sejumlah pemain bintang baru macam Jajang Mulyana dan Firman Utina pun mereka rekrut. Dengan tambahan kedua pemain tersebut, kekuatan tim ini diharapkan semakin kokoh.

Selain itu mereka juga mendatangkan pelatih kepala asal Skotlandia, Simon McMenemy, serta staf baru. Tak cukup, mereka juga memboyong pemain asing asal Brasil, Jhonatan Mariano Bernardo. Pemain ini didatangkan untuk mengisi pos di lini serangnya karena kondisi kaki Thiago Furtuoso yang masih dibekap cedera.

Simon cukup optimistis timnya mampu bersaing di papan atas klasemen sementara. Sebab jika melihat kedalaman skuat tim ini, Bhayangkara FC memang memiliki semua syarat untuk menjadi tim papan atas di Liga 1 nanti.

Pasalnya, mereka memiliki pemain bintang lokal maupun asing yang relatif lengkap. Bahkan jika dilitilk lagi, nyaris semua pemain, baik inti maupun cadangan, berkategori bintang. Bhayangkara FCjuga berniat mendatangkan marquee player dalam waktu dekat.

Jajang Mulyana bukan nama baru di sepak bola nasional. Ia mengorbit tinggi ketika membela Timnas U-21 dan Timnas U-23. Merumput bersama sejumlah klub kasta tertinggi juga pernah ia kecap.

Sebut saja Madura United, Sriwijaya FC, Mitra Kukar, dan Pusamania Borneo FC. Pada usianya yang ke-29 tahun, pemain yang pernah dipinjamkan ke Boavista FC itu memang tak memiliki prestasi mengilap, namun di tangan pelatih Bhayangkara FC, Simon Mcmenemy, Jajang diyakini bakal menjadi salah satu penyerang tajam di Liga 1 nanti.

Posturnya yang jangkung, naluri mencetak golnya yang bagus, serta kematangan sang pemain menjadi alasan pelatih Bhayangkara FC Simon Mcmenemy merekomendasinya untuk direkrut. “Saya tahu kualitas Jajang. Saya yakin, dia akan memberikan kontribusi besar bagi tim ini. Dia sekarang sedang mencari ketajamannya kembali,” sebut arsitek asal Skotlandia ini.

Jajang sendiri memang tak terlalu tampak menonjol selama masa persiapan. Dari serangkaian uji coba yang dilakukan Bhayangkara FC, ia hanya mencetak satu gol. Namun, sang pemain memiliki keistimewaan yang tak dimiliki pemain lain, yakni bisa bermain sama bagusnya ketika ditempatkan sebagai stoper.

Kualitasnya di posisi yang tak lazim ini ia tunjukkan ketika Bhayangkara beruji coba lawan Persegres Gresik United beberapa waktu lalu. Jajang tak bermain sebagai striker, melainkan berduet dengan Otavio Dutra di bek tengah.

Hasilnya luar biasa, sang pemain tampil bagus. Tanpa rasa canggung, Jajang berkali-kali mementahkan peluang yang didapat Persegres. Tak hanya memutus serangan yang dilancarkan oleh lawan melalui bola bawah, Jajang juga kerap memenangi duel-duel udara.

“Dia pemain luar biasa. Kalau sedang berada di puncak performa, Jajang akan memberikan yang terbaik untuk tim yang dibelanya,” sebut Simon.

Pembuktian Simon McMenemy Sang Spesialis Pemain Muda

Bernama lengkap Simon Alexander Mcmenemy, pelatih yang satu ini didatangkan oleh manajemen Bhayangkara FC pada 13 Januari lalu. Ia menggantikan posisi pelatih kepala sebelumnya, Ibnu Grahan yang kini didapuk sebagai asisten.

Simon dianggap sosok yang tepat untuk menangani Bhayangkara FC, sebab sang pelatih memiliki spesialisasi dalam menangani tim yang dihuni banyak pemain muda usia. Simon mengaku senang membesut pemain belia karena memiliki semangat sangat besar.

Sayang, sejak kedatangannya ke BFC, Simon belum menunjukkan kemampuannya sebagai tim bertangan dingin. Buktinya, usai dipecundangi Arema FC di Trofeo Bhayangkara Cup 2017, Bhayangkara FC kembali menuai kegagalan di Piala Presiden 2017. Mereka tersingkir setelah dibungkam Semen Padang FC 0-1 di babak perempat final.

Pada uji coba terakhir di Surabaya kontra Persegres Gresik United, Bhayangkara FC juga meraih hasil kurang memuaskan. Tak diperkuat tiga pemain pilarnya yang bergabung dengan Timnas U-22, Evan Dimas Darmono, dan Putu Gede Juni Antara, Bhayangkara FC hanya meraih hasil imbang 2-2.

Mantan pelatih Pelita Bandung Raya tampaknya harus bekerja ekstra keras jika tak ingin timnya menjadi bulan-bulanan lawan. Pasalnya, dengan sejumlah kebijakan baru PSSI saat ini, Bhayangkara FC dalam bahaya.(Fahrizal Arnas)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s