Profil Bhayangkara FC: Mencari Kemapanan 2017

Kemunculaan Bhayangkara FC berawal dari dualisme Persebaya Surabaya yang terjadi pada 2010. Kala itu, ada dua tim yang menggunakan nama Persebaya Surabaya. Satu berlaga di Indonesian Premier League (IPL) dengan nama Persebaya 1927, dan yang satunya lagi tampil di Divisi Utama dengan nama Persebaya Surabaya.

Setelah dua musim bermain di Divisi Utama, Persebaya Surabaya akhirnya promosi ke Indonesian Super League (ISL) di musim ketiganya usai menjuarai kompetisi kasta kedua tersebut, tepatnya pada 2013 lalu.

Hanya semusim bermain di kompetisi kasta teratas (musim 2013-2014), upaya Persebaya untuk tetap eksis di kompetisi kasta tertinggi mulai mendapat hambatan. Tanda-tanda itu muncul diawali dari keikutsertaan mereka di Piala Presiden 2015.

Pada waktu itu, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) mengancam Persebaya di bawah PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) tidak bisa ambil bagian di turnamen garapan Mahaka Sports and Entertainment itu jika tidak mengubah nama.

Demi mendapatkan izin tampil di turnamen tersebut, PT MMIB di bawah kendali I Gede Widiade selaku pengelola klub melunak. Nama United pun ditambahkan di belakang nama Persebaya, jadi Persebaya United.

Setelah itu, mereka kembali berganti nama menjadi Bonek FC, kemudian menjadi Surabaya United, berubah lagi menjadi Surabaya United Bhayangkara. Pergantian nama sebanyak empat kali itu terjadi hanya dalam kurun waktu setahun, sepanjang musim 2015.

Memasuki musim 2016, tim yang saham mayoritasnya dimiliki Polri ini kembali mengubah namanya, kali ini menjadi Bhayangkara FC. Dengan menggunakan nama tersebut, Bhayangkara FC pun tampil di Torabika Soccer Championship 2016 presented by IM3 Ooredoo. Nama inilah yang kemudian dipatenkan menjadi nama tim yang baru saja berpindah markas dari Surabaya ke Jakarta tersebut.

Di kompetisi baru, Liga 1, Bhayangkara FC pun berambisi memperbaiki catatan prestasinya di TSC 2016. Mereka memancang target minimal bertengger di posisi lima besar. Namun peruntungan Bhayangkara tampaknya berkata lain, mereka hanya finish di urutan ke-7 klasemen akhir.

Perubahan besar dilakukan manajemen Bhayangkara FC pada pramusim 2017. Selain mempertahankan sederet wajah lama, mereka juga memulangkan sejumlah pemain berstatus anggota Polri. Tak hanya itu, sejumlah pemain bintang baru macam Jajang Mulyana dan Firman Utina pun mereka rekrut. Dengan tambahan kedua pemain tersebut, kekuatan tim ini diharapkan semakin kokoh.

Selain itu mereka juga mendatangkan pelatih kepala asal Skotlandia, Simon McMenemy, serta staf baru. Tak cukup, mereka juga memboyong pemain asing asal Brasil, Jhonatan Mariano Bernardo. Pemain ini didatangkan untuk mengisi pos di lini serangnya karena kondisi kaki Thiago Furtuoso yang masih dibekap cedera.

Simon cukup optimistis timnya mampu bersaing di papan atas klasemen sementara. Sebab jika melihat kedalaman skuat tim ini, Bhayangkara FC memang memiliki semua syarat untuk menjadi tim papan atas di Liga 1 nanti.

Pasalnya, mereka memiliki pemain bintang lokal maupun asing yang relatif lengkap. Bahkan jika dilitilk lagi, nyaris semua pemain, baik inti maupun cadangan, berkategori bintang. Bhayangkara FCjuga berniat mendatangkan marquee player dalam waktu dekat.

Jajang Mulyana bukan nama baru di sepak bola nasional. Ia mengorbit tinggi ketika membela Timnas U-21 dan Timnas U-23. Merumput bersama sejumlah klub kasta tertinggi juga pernah ia kecap.

Sebut saja Madura United, Sriwijaya FC, Mitra Kukar, dan Pusamania Borneo FC. Pada usianya yang ke-29 tahun, pemain yang pernah dipinjamkan ke Boavista FC itu memang tak memiliki prestasi mengilap, namun di tangan pelatih Bhayangkara FC, Simon Mcmenemy, Jajang diyakini bakal menjadi salah satu penyerang tajam di Liga 1 nanti.

Posturnya yang jangkung, naluri mencetak golnya yang bagus, serta kematangan sang pemain menjadi alasan pelatih Bhayangkara FC Simon Mcmenemy merekomendasinya untuk direkrut. “Saya tahu kualitas Jajang. Saya yakin, dia akan memberikan kontribusi besar bagi tim ini. Dia sekarang sedang mencari ketajamannya kembali,” sebut arsitek asal Skotlandia ini.

Jajang sendiri memang tak terlalu tampak menonjol selama masa persiapan. Dari serangkaian uji coba yang dilakukan Bhayangkara FC, ia hanya mencetak satu gol. Namun, sang pemain memiliki keistimewaan yang tak dimiliki pemain lain, yakni bisa bermain sama bagusnya ketika ditempatkan sebagai stoper.

Kualitasnya di posisi yang tak lazim ini ia tunjukkan ketika Bhayangkara beruji coba lawan Persegres Gresik United beberapa waktu lalu. Jajang tak bermain sebagai striker, melainkan berduet dengan Otavio Dutra di bek tengah.

Hasilnya luar biasa, sang pemain tampil bagus. Tanpa rasa canggung, Jajang berkali-kali mementahkan peluang yang didapat Persegres. Tak hanya memutus serangan yang dilancarkan oleh lawan melalui bola bawah, Jajang juga kerap memenangi duel-duel udara.

“Dia pemain luar biasa. Kalau sedang berada di puncak performa, Jajang akan memberikan yang terbaik untuk tim yang dibelanya,” sebut Simon.

Pembuktian Simon McMenemy Sang Spesialis Pemain Muda

Bernama lengkap Simon Alexander Mcmenemy, pelatih yang satu ini didatangkan oleh manajemen Bhayangkara FC pada 13 Januari lalu. Ia menggantikan posisi pelatih kepala sebelumnya, Ibnu Grahan yang kini didapuk sebagai asisten.

Simon dianggap sosok yang tepat untuk menangani Bhayangkara FC, sebab sang pelatih memiliki spesialisasi dalam menangani tim yang dihuni banyak pemain muda usia. Simon mengaku senang membesut pemain belia karena memiliki semangat sangat besar.

Sayang, sejak kedatangannya ke BFC, Simon belum menunjukkan kemampuannya sebagai tim bertangan dingin. Buktinya, usai dipecundangi Arema FC di Trofeo Bhayangkara Cup 2017, Bhayangkara FC kembali menuai kegagalan di Piala Presiden 2017. Mereka tersingkir setelah dibungkam Semen Padang FC 0-1 di babak perempat final.

Pada uji coba terakhir di Surabaya kontra Persegres Gresik United, Bhayangkara FC juga meraih hasil kurang memuaskan. Tak diperkuat tiga pemain pilarnya yang bergabung dengan Timnas U-22, Evan Dimas Darmono, dan Putu Gede Juni Antara, Bhayangkara FC hanya meraih hasil imbang 2-2.

Mantan pelatih Pelita Bandung Raya tampaknya harus bekerja ekstra keras jika tak ingin timnya menjadi bulan-bulanan lawan. Pasalnya, dengan sejumlah kebijakan baru PSSI saat ini, Bhayangkara FC dalam bahaya.(Fahrizal Arnas)

Update Transfer Indonesia Liga 1 2017: Marquee Player

Sepanjang sejarah bursa transfer sepakbola Indonesia, bisa jadi bursa transfer kali ini menjadi yang paling bersejarah. Lumrah saja karena sejumlah nama besar masuk mewarnai kompetisi Liga 1 yang akan dimulai dalam hitungan hari.

Pemain-pemain asing yang pernah merumput di Premier League seperti Michael Essien, Carlton Cole dan Peter Odemwingie datang membawa angin segar bagi persepakbolaan nasional. Mereka didatangkan oleh Persib Bandung dan Madura United. Hal ini kemudian membuat PSSI kembali merevisi peraturan terhadap marquee player yang semula hanya dijatah satu menjadi lima pemain.

Usaha mendatangkan marquee player pun diikuti oleh Borneo FC yang mendatangkan Shane Meltz, striker tim nasional Selandia Baru di Piala Dunia 2010 silam. Meski usianya sudah menginjak kepala tiga, namun ia dinilai masih mampu memberikan andil siginifikan terhadap Pesut Etam.

Bergeser ke sisi timur pulau Jawa, kita mendapati Persela Lamongan yang baru saja sukses melabuhkan Jose Manuel Barbosa Alvez dari Portugal. Kabarnya, ia telah malang melintang di kasta tertinggi Portugal, Primeira Liga.

Meski tren marquee player secara perlahan dibangun dan mulai digandrungi, namun mayoritas klub Liga 1 terlihat masih belum berhasrat menggunakan jasa mereka. Sebut saja Arema FC dan Persija Jakarta. Kedua klub tersebut lebih memilih pemain yang cocok dengan kebutuhan tim. Singo Edan baru-baru ini merekrut mantan pemain Borneo FC, Jad Noureddine yang diplot menggantikan Bagas Adi Nugroho yang sedang fokus bersama timnas, pun demikian Macan Kemayoran yang mendatangkan Arthur Irawan dan Rohit Chand.

Di sisi lain, usaha Mitra Kukar untuk memakai jasa mantan penyerang Yangon United, Cezar Augustuso, gagal setelah sang pemain enggan melakoni tes medis.

 

18 Pemain Kunci dari Setiap Klub di Liga 1 Musim 2017

S18 Pemain Kunci dari Setiap Klub di Liga 1 Musim 2017 :

Arema FC: Esteban Vizcarra

Sejak kedatangannya di Malang pada tahun 2015 lalu, Esteban Vizcarra telah menjadi pemain kunci bagi Arema, terutama di lini depan. Keberadaannya pun diperkirakan akan tetap sangat penting bagi Singo Edan di Liga 1 mendatang. Umpan-umpan serta tusukan-tusukannya dari lini kedua akan tetap sangat membahayakan, dan ia pun akan tetap menjadi penyuplai utama bola-bola berbahaya untuk dieksekusi oleh mesin gol Arema, Cristian Gonzales.

Apalagi Vizcarra tak akan sendirian; ia kini memiliki beberapa rekan yang bisa diandalkan seperti Adam Alis dan pemain muda Arema yang cukup mencuri perhatian di gelaran Piala Presiden 2017 lalu, Nasir. Vizcarra akan menjadi pemimpin lini tengah yang kini diisi banyak pemain muda kepercayaan Aji Santoso.

Bali United: Irfan Bachdim

Saat melakoni debutnya di Bali United pada gelaran Piala Presiden 2017 lalu, Irfan Bachdim belum tampil terlalu meyakinkan, namun ini bisa dimaklumi, mengingat ia masih dalam fase adaptasi di klub barunya, apalagi ia baru kembali dari petualangannya di Thailand dan Jepang. Adaptasinya akan sangat penting bagi Bali United, yang ditinggal Indra Sjafri dan kini dilatih oleh Hans Peter Schaller.

Jika Irfan bisa beradaptasi dengan baik dengan skema Schaller dan mempertontonkan lagi kemampuan hebatnya seperti yang kita lihat di timnas Indonesia menjelang Piala AFF 2016 lalu, Bali United sepertinya akan meraih prestasi yang jauh lebih baik ketimbang di Indonesia Soccer Championship lalu.

Barito Putera: Rizky Pora

Salah satu pemain terbaik di timnas Indonesia pada gelaran Piala AFF 2016 lalu ini akan memimpin Barito Putera asuhan Jacksen F. Tiago sebagai kapten tim. Ia juga dipastikan akan menjadi salah satu senjata Barito dari sektor sayap yang akan sangat berbahaya di Liga 1 mendatang.

Kemampuan Rizky untuk menusuk dan tak hanya melepaskan umpan namun juga melepaskan tendangan ke arah gawang akan sangat berguna bagi Barito untuk membuka pertahanan tim-tim lawan yang di atas kertas lebih kuat. Salah satu buktinya sudah tersaji dalam laga uji coba kontra Kalteng Putra, di mana ia mencetak salah satu dari tiga gol Barito.

Bhayangkara FC: Wahyu Tri Nugroho

Dengan kemungkinan absennya Evan Dimas dalam banyak pertandingan Bhayangkara FC di Liga 1 mendatang karena aktivitas tim nasional Indonesia U-22, Wahyu Tri Nugroho diyakini akan ‘mengambil alih’ status sebagai pemain kunci tim asuhan Simon McMenemy tersebut. Toh sejak tahun 2016 lalu, Wahyu memang sudah menjadi salah satu pemain terpenting Bhayangkara.

Pada gelaran Indonesia Soccer Championship lalu, Wahyu merupakan kiper dengan jumlah penyelamatan terbanyak di antara kiper-kiper lainnya. Performa apiknya yang berlanjut di Piala Presiden lalu diperkirakan akan tetap terjaga hingga Liga 1 mendatang, dan memberikan rasa aman bagi rekan-rekannya.

Madura United: Slamet Nurcahyono

Kemampuan Slamet sebagai jenderal lapangan tengah Madura United akan membuatnya kembali menonjol di Liga 1 mendatang, melampaui pemain-pemain asing yang menjadi rekan-rekannya, seperti Fabiano Beltrame. Jangan lupa, performa apik Slamet lah yang membuat Madura United bisa menjadi kejutan di ISC A 2016 lalu.

Keberadaan beberapa rekan baru yang bisa diandalkan seperti Fachruddin Aryanto di lini belakang dan Greg Nwokolo di lini depan juga akan membantu Slamet meningkatkan kualitasnya. Jadi, jangan heran jika lelaki mungil yang pernah membela PSS Sleman ini akan kembali jadi pembicaraan hangat di musim kompetisi 2017 nanti.

Mitra Kukar: Oh In-kyun

Oh In-kyun bukanlah nama asing di sepakbola Indonesia. Musim 2016 lalu, ia menjadi andalan Persegres Gresik United, di mana ia mencetak empat gol dan dua assist di sepanjang musim ISC A 2016. Kehadirannya pun diperkirakan akan meningkatkan kualitas lini tengah Naga Mekes di Liga 1 nanti.

Seperti pemain Asia Timur lainnya, Oh mempunyai tipikal permainan yang ngotot dan tak kenal lelah. Kualitas ini akan sangat berguna bagi anak-anak asuhan Jafri Sastra, yang tentunya ingin meningkatkan prestasi mereka di musim kompetisi mendatang.

Persegres Gresik United: Patrick da Silva

Keputusan manajemen Persegres untuk menambah kontrak Patrick da Silva merupakan hal yang masuk akal untuk dilakukan. Pasalnya, kontribusi pemain asal Brasil tersebut memang terhitung cukup besar bagi Persegres di gelaran ISC A 2016 lalu.

Dalam turnamen berbentuk liga itu, Patrick sukses mencetak delapan gol dan tiga assist dalam 23 penampilan, yang artinya ia berperan langsung dalam lebih dari sepertiga jumlah gol Kebo Giras di sepanjang turnamen. Ia akan sangat dibutuhkan oleh pelatih Gomes de Oliviera di Liga 1 mendatang, apalagi jika lini belakang Persegres masih serapuh saat di ISC A lalu.

Persela Lamongan: Ivan Carlos

Dengan akan sering absennya dua wonderkid Persela, Saddil Ramdani dan Ahmad Nur Hardianto, Ivan Carlos dipastikan akan menjadi andalan utama Laskar Joko Tingkir di Liga 1 mendatang. Naluri mencetak gol penyerang yang bergabung dengan Saddil dkk pada putaran kedua ISC A 2016 lalu ini memang sudah terbukti.

Dalam gelaran ISC A lalu, penyerang asal Brasil ini mampu mencetak enam gol dalam 13 pertandingan. Ia pun berhasil mencetak gol dalam laga uji coba Persela kontra Persip Pekalongan baru-baru ini. Sayang ia masih punya PR besar: ia harus menjaga emosinya, yang membuatnya dikartu merah wasit dalam laga uji coba tersebut.

Perseru Serui: Arthur Bonai

Meski pada akhirnya gagal menjalani debutnya di tim nasional Indonesia, fakta bahwa Alfred Riedl sempat memanggil Arthur Bonai ke skuat sementara timnas untuk Piala AFF 2016 lalu menjadi bukti penting kualitas lelaki berusia 25 tahun ini. Tak diragukan lagi, ia adalah pemain terpenting dan paling cemerlang Perseru di ISC A 2016 lalu.

Mampu bermain di sisi lapangan maupun di sektor tengah, Arthur memiliki kualitas umpan yang bagus. Kualitasnya ini akan sangat membantu Perseru untuk bisa menciptakan kejutan di Liga 1 nanti.

Persib Bandung: Atep Rizal

Siapa lagi pemain kunci Persib Bandung jika bukan ‘Lord’ Atep? Bahkan meskipun kini hadir dua marquee player dalam diri Michael Essien dan Carlton Cole, Atep diperkirakan akan tetap menjadi andalan utama Djadjang Nurdjaman di lini tengah Maung Bandung.

Musim lalu di ISC A, Atep mencatatkan 33 penampilan atau hanya absen dalam satu pertandingan saja. Jumlah ini adalah yang terbanyak di Persib, dan satu-satunya pemain yang bisa menyamai capaiannya ini hanyalah Tony Sucipto. Catatan statistiknya pun cukup apik: di sepanjang musim, Atep mencatatkan lima gol dan dua assist. Jumlah golnya hanya kalah dari Sergio van Dijk (12 gol) dan Vladimir Vujovic (6 gol), dan jumlah assist-nya hanya kalah dari Robertino Pugliara (6 assist).

Persiba Balikpapan: Marlon Da Silva

Para pendukung Persiba boleh saja khawatir ketika mengetahui bahwa Shohei Matsunaga menyeberang ke Persib Bandung pasca berakhirnya ISC A 2016 lalu. Wajar saja, Shohei memang menjadi andalan utama Beruang Madu di turnamen rasa liga yang digelar pada tahun 2016 itu, di mana ia menjadi top skorer klub dengan 13 gol. Bisa apa Persiba tanpa Shohei?

Beruntung, Persiba tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan penggantinya. Memanfaatkan hubungan buruk Marlon Da Silva dengan pelatih Mitra Kukar, Jafri Sastra, Persiba membajak pemain asal Brasil tersebut untuk Piala Presiden dan Liga 1 di tahun 2017 ini. Tentu saja Marlon diharapkan bisa menjadi pendulang gol Persiba musim ini, setidaknya bisa menyamai catatan pribadinya di Naga Mekes musim lalu, yaitu 16 gol.

Persija Jakarta: Andritany Ardhiyasa

Siapa pemain terbaik Persija Jakarta di sepanjang tahun 2016 lalu? Tentu saja Andritany Ardhiyasa. Tanpa kehadirannya, Persija mungkin bisa kebobolan lebih dari 42 kali – jumlah kebobolan paling sedikit di antara tim-tim papan bawah lainnya di ISC A 2016. Meski jumlah clean sheetnya memang terbilang sedikit, tapi jumlah penyelamatannya yang merupakan salah satu yang terbanyak di ISC A menunjukkan bahwa kegagalannya untuk mencatatkan laga tanpa kebobolan bukan sepenuhnya kesalahannya.

Persija memang cukup berbenah menjelang Liga 1 mendatang, apalagi dengan hadirnya investor baru yang membuat keuangan klub ibukota ini sedikit lebih sehat. Tapi Persija dipastikan akan tetap sangat mengandalkan pemain yang dipanggil Bagol ini di sepanjang tahun 2017 ini, dan jangan heran jika sekali lagi, Andritany akan membuat catatan penyelamatan dalam jumlah tinggi di Liga 1 mendatang.

Persipura Jayapura: Boaz Solossa

Pemain terbaik ISC A 2016 ini adalah ‘top skorer’ di antara pemain-pemain lokal Indonesia (tanpa menghitung pemain naturalisasi) di sepanjang tahun lalu, dan fakta bahwa ia absen di sebagian besar paruh kedua musim karena membela tim nasional Indonesia di Piala AFF 2016 menunjukkan betul kualitasnya. Seandainya saja liga tak terus berjalan selama persiapan dan pelaksanaan Piala AFF berlangsung, mungkin jumlah golnya akan lebih banyak daripada 11 gol yang ia catatkan musim lalu.

Meski kini sudah berusia 31 tahun, Boaz tetap memiliki ketajamannya seperti saat masih muda dulu. Kehadiran Robertino Pugliara di lini tengah Persipura akan sangat membantunya untuk mencatatkan gol dalam jumlah tinggi lagi musim ini. Dia adalah pemain terbaik Indonesia saat ini, dan jangan heran jika Persipura akan terus mengandalkannya di lini depan.

PS TNI: Erwin Ramdani

Erwin Ramdani sejatinya seorang gelandang sayap di PS TNI. Namun naluri mencetak golnya seperti seorang penyerang. Dan ini terbukti dengan catatan 7 golnya di ISC A 2016 lalu, terbanyak kedua tim ini setelah Aldino Herdianto, yang telah hengkang ke Mitra Kukar. Kecepatan dan naluri mencetak golnya inilah yang akan menjadi salah satu senjata utama PS TNI di Liga 1 mendatang.

Eks Persib U-21 ini dipastikan akan menjadi andalan utama PS TNI di lini tengah mereka nanti. Kehadiran dua striker asing, Ibrahim Conteh dan Mamadou Barry, di lini depan timnya bisa jadi akan membantunya juga untuk meningkatkan statistik assist-nya di Liga 1 mendatang.

Erwin Ramdani (putih kanan) tetap menjadi andalan PS TNI musim ini

PSM Makassar: Rasyid Bakri

Sejak muncul sebagai ‘wonderkid’ beberapa tahun yang lalu, memang terlihat sudah bahwa Rasyid Bakri memiliki talenta yang besar yang bisa membawanya menjadi salah satu gelandang terbaik di tanah air. Potensi itu akhirnya benar-benar menjadi kenyataan pada ISC A 2016 lalu. Menjadi andalan di lini tengah PSM, Rasyid berkembang menjadi mesin utama PSM dalam menyerang maupun bertahan.

Catatan 7 gol dan 8 assist-nya di sepanjang musim membuktikan kualitas dan pentingnya kehadiran Rasyid Bakri di skuat Juku Eja. FourFourTwo Indonesia sendiri memilihnya sebagai gelandang terbaik ISC A 2016 lalu. Apakah kami akan kembali memilihnya sebagai yang terbaik di Liga 1 nanti? Yah, Rasyid punya potensi untuk mencatatkan itu.

Pusamania Borneo FC: Asri Akbar

Keberhasilan Pusamania Borneo FC II secara mengejutkan melaju ke final Piala Presiden 2017 lalu tak lepas dari performa luar biasa Asri Akbar. Meski sudah berusia 33 tahun, energi dan visi Asri sangat berpengaruh pada kesuksesan tim kedua PBFC yang tampil di turnamen pra-musim 2017 tersebut. Aksi-aksinya pun diperkirakan akan membuatnya mendapatkan tempat utama di lini tengah PBFC di Liga 1 mendatang.

Toh pengalaman Asri yang sudah malang melintang di papan atas sepakbola Eropa akan sangat berguna di tim muda PBFC saat ini. Musim lalu, ia tampil 29 kali di ISC A 2016 bersama Mitra Kukar, dan mencetak dua gol dan satu assist.

Semen Padang: Marcel Sacramento

Cepatnya adaptasi Marcel Sacramento, yang baru mencicipi sepakbola Indonesia di tahun 2016 lalu dan langsung mencetak 21 gol di ISC A jelas sangat disyukuri Semen Padang. Performa luar biasa Marcel di turnamen itu turut membantu Kabau Sirah berada di papan tengah ISC A.

Hebatnya lagi, Marcel bukan sekadar tipe penyerang egois yang hanya memikirkan diri sendiri. Ini tercermin dari total enam assist yang ia catatkan di turnamen yang sama. Konsistensinya pun terbukti ketika ia sekali lagi tampil luar biasa di Piala Presiden 2017. Nama Marcel Sacramento tampaknya akan kembali berada di papan atas daftar top skorer di Liga 1 nanti.

Sriwijaya FC: Beto Goncalves

Top skorer ISC A 2016 lalu ini diperkirakan akan terus mempertahankan ketajamannya yang terjaga dengan luar biasa sejak tiba di Indonesia pada tahun 2007 lalu. Meski kini usianya sudah memasuki angka 36 tahun, Beto tampaknya belum mau berhenti berlari dan mencetak gol.

Beto memang hanya mencetak satu gol untuk Sriwijaya di Piala Presiden 2017 lalu, namun tak bijak hanya menilainya dari jumlah golnya saja. Pasalnya, pada ISC A 2016 lalu, selain mencetak 25 gol, Beto juga mencatatkan lima assist di sepanjang musim. Kerja samanya dengan Hilton Moreira dipastikan akan kembali menjadi senjata utama Laskar Wong Kito di Liga 1 nanti.

TSC 2016 Match 24 Bhayangkara FC Vs Persiba 1-0

17 October 2016
Kick-off 16:30 (UTC+07:00)
Indonesia Soccer Championship A
Bhayangkara FC Vs Persiba

Bhayangkara FC -1.5 @2.10/2.05
Persiba +1.5 @1.71/1.69
Over 2.5 @1.80/1.78
Under 2.5 @1.95/1.92

Bhayangkara FC:
Away Best Attack Team Bhayangkara FC

Good News Thiago Furtuosso ready back to play (Key FW Player Top Scorer 10/Goals, last match absence card accumulation)

Bhayangkara FC coach, Ibnu Grahan in a press conference, stressed that his team will be ready to compete at full strength with no players were serving sentences or injury card accumulation.

“We are ready to get the full point. This is our home. When it is appropriate for us to win so as not upside of the top five,”

Led by Evan Dimas. Sector is also still inhabited attack Ilhamuddin Armaiyn on the left side and Wahyu Subo Seto or Antoni Nugroho on the right side. Not to mention the duet wingback Putu Gede and Fatcoy Rochman.

the physical condition of all the players in good condition and ready to be lowered.

Probably Bhayangkara FC LINEUPS 4-3-2-1 (Coach ibnu Grahan) :

1. Wahyu T Nugroho (GK), DF: 3 Dany Saputra (LB), 5. Oktavio D (CB), 2 Putu Gede Juni (RB),  89. Lee Yoo Joon (RB/DMF), MF: 81. Muh Hargianto (DMF), 27 Indra K Ardhiyaksa (CMF), 6 Evan Dimas Darmono (CMF), FW:  20. Ilham U Armaiyn (LWF), 22. Fandi E Utomo (RWF), 88 Antoni Putro Nugr (CF), 99. Thiago Furtuoso (CF)

Bhayangkara FC LINEUPS 4-3-3 (Coach: ibnu Grahan) :

1. Wahyu T Nugroho (GK), DF: 3 Dany Saputra (LB), 5. Oktavio D (CB), 2 Putu Gede Juni (RB),  MF: 89. Lee Yoo Joon (DMF), 86 Khairallah Abdelkbir (CMF), 27 Indra K Ardhiyaksa (CMF), 6 Evan Dimas Darmono (CMF), FW:  20. Ilham U Armaiyn (LWF), 22. Fandi E Utomo (RWF), 99. Thiago Furtuoso (CF)

Key player: Thiago F GOAL 84″

Persiba Balikpapan:

in this match coach Jaino will make some rotation, Persiba are now have many young players filled. the average age of 22 years. Jaino likely to continue playing a young player in this match like Heri Susanto striker, midfielder Abdul Aziz and players from PON West Papua, Melkior Majefat.

In addition, there are the names of other young players such as I Gusti Rustiawan, Bayu Guntoro, Kartika Aji Kurniawan, Hanif Abdurrauf Sjahbandi, Mangkualam Asnawi Bahar and Aldo Kurniawan.

Coach said “We enjoyed the maturation process of these players is not just looking for a victory,”

Probably Persiba LINEUPS 4-4-2 (Coach Jaino Matos) :

78 Alfonsius Kelvan (GK), DF: Abdul Rahman (LB), 16 Hermawan (CB), 26 Dirkir Glay (CB), 21 Hanif A Sjahbandi (CB), MF: 19 iqbal Samad (MF/RB), 88 Abdul Lutfi Akbar (DMF), 11. Bima Sakti (DMF), 13 Kurniawan Karman (SMF), FW: 18 Shohei Matsunaga (CF), 9 Maycon Silvio Calijuri (CF)

Persiba LINEUPS 4-4-2 (Coach: Jaino Matos) :

23 Yoewanto S Beni (GK), DF: 91 Fengky Turnado (LB), 17 Abdul Rahman (LB), 16 Hermawan (CB), 21 Hanif A Sjahbandi (CB), MF: 5 Antonio A Teles (DMF), 88 Abdul Lutfi Akbar (DMF), 13 Kurniawan Karman (SMF), 25 Asnawi Mangkuala (CMF), 71 I.G. Rustiawan (RMF), FW: 27 Ade Kurniawan (CF)

(Dari lineups terlihat Persiba sudah tidak niat bermain menyerang apalagi niat untuk win, total hanya 1 pemain tipe penyerang CF.)

RESULT : 1-0

Bhayangkara FC wajib win VS Pusamania Borneo FC

Tidak ada kata kalah dalam kamus Bhayangkara FC (BFC), utamanya ketika bermain di kandang sendiri, Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Poin absolut kembali diincar anak buah Ibnu Grahan ketika meladeni perlawanan Pusamania Borneo FC (PBFC), Jumat (7/10) besok sore.

PBFC bukan lawan yang patut dipandang remeh oleh Indra Kahfi dan kolega. Catatan statistik mengungkapkan, tim ini belum pernah kalah dalam lima pertandingan terakhir. Kehadiran Flavio Beck membuat lapangan tengah tim ini makin tajam.

“Mereka tim bagus. Banyak pemain berpengalaman di tim ini. Belum lagi seorang Flavio, gelandang yang sangat elegan. Pertandingan besok akan sangat menarik dan seru,” sanjung Ibnu Grahan.

Ibnu mengaku jika dirinya sudah menemukan formula untuk meredam PBFC di Sidoarjo. “Kami akan bermain normal, sesuai dengan gaya permainan kami biasanya. Tentu saja, kami menginginkan kemenangan di pertandingan besok sore,” tegas pelatih asli Surabaya ini.

Pada pertemuan di putaran pertama Indonesia Soccer Championship (ISC), 27 Mei lalu di Stadion Segiri Samarinda, BFC berhasil menahan imbang PBFC dengan skor 1-1. Gol penyelamat BFC diceploskan oleh Evan Dimas Darmono.

Untuk laga besok, BFC dipastikan tak akan diperkuat Evan Dimas Darmono dan Putu Gede Juni Antara. Sedangkan PBFC tak bisa menurunkan Jefri Kurniawan dan Lerby Eliandri. Keempat pemain ini harus bergabung dengan Tim Nasional (Timnas) Indonesia.

“Kami kehilangan dua pemain, begitu juga PBFC. Yang jelas kami sudah mempersiapkan pengganti Evan Dimas dan Putu. Saya yakin PBFC juga demikian,” jelas Ibnu.

Ibnu punya modal bagus untuk laga besok sore. Mereka baru saja mempermalukan tuan rumah Sriwijaya FC dengan empat gol tanpa balas. “Kemenangan dari Palembang adalah modal. Sekarang bagaimana kita memanfaatkan modal ini untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi,” tutup Ibnu.

Bhayangkara FC Antisipasi Kehilangan Evan dan Indra Kahfi

Bhayangkara FC (BFC) terancam tidak akan diperkuat dua pemain intinya, yakni Evan Dimas Darmono dan Indra Kahfi, saat meladeni Pusamania Borneo FC (PBFC), Jumat (7/10) mendatang. Sebab, kedua pemain ini kemungkinan besar akan memperkuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia.

Minggu (9/10) malam, atau dua hari setelah pertandingan antara BFC dengan PBFC, Timnas akan melakoni pertandingan lawan Vietnam di Stadion Maguwoharjo, Sleman. “Besar kemungkinan Evan dan Indra Kahfi akan dipanggil,” kata Ibnu Grahan, pelatih BFC.

Hanya saja, Ibnu belum bisa memastikan apakan BFC akan mengizinkan kedua pemain ini gabung Timnas Indonesia. “Itu manajemen yang tahu. Mau kasih Evan saja, Indra Kahfi saja, atau dua-duanya, Evan dan Indra Kahfi,” sambung Ibnu kepada Bola.net, Selasa (4/10) pagi.

Karena jadwal BFC yang sangat mepet dengan agenda Timnas, maka Ibnu harus pintar-pintar untuk mengantisipasi kondisi ini. “Kemungkinan besar kita akan kehilangan mereka berdua. Oleh sebab itu, hal ini harus kita antisipasi sejak sekarang,” tegas Ibnu.

Jika melihat daftar pemain BFC, Ibnu Grahan bisa memaksimalkan Fitra Ridwan, Zulfiandi, Khairallah Abdelkbir dan Fandi Eko Utomo sebagai pengganti Evan Dimas. Sementara untuk pelapis Indra Kahfi, ada nama Suroso, Herwin Tri Saputra dan Valentino Telaubun.

The Most Tackling Player in ISC 2016 (Update Oktober)

The Most Tackling Player in ISC 2016

1. RICKY FAJRIN (LB) (Bali United) 82 Tackle (67%)
2. HASIM KIPUW (RB) (Bali United) 57 Tackle (66%)
3. M HARGIANTO (DMF) (Bhayangkara FC) 56 Tackle (55%)
4. SEPTINUS ALUA (CMF) (Perseru Serui) 55 Tackle (57%)
5. KIM JEFFREY KURNIAWAN (CMF) (Persib Bandung) 51 Tackle (65%)
6. RASYID ASSAHID BAKRI (CMF) (PSM Makasar) 51 Tackle (54%)
7. BAYU PRADANA (CMF) (Mitra Kukar) 51 Tackle (52%)
8. ANDIK RENDIKA RAMA (LB) (Persib Bandung) 50 Tackle (64%)
9. BENY WAHYUDI (RB) (Arema Malang) 49 Tackle (52%)
10. INDRA KAHFI ARDHIYASA (CMF) (Bhayangkara FC) 48 Tackle (52%)